Archive for the Category ◊ Info Domba ◊

Author:
• Tuesday, May 08th, 2012

Untuk melakukan perkawinan pada domba, ada beberapa langkah persiapan yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut.

A. Pemeriksaan Induk Yang Pernah Beranak

Kira-kira 60 hari sesudah induk beranak, peternak sudah harus memperhatikan induk tersebut untuk dikawinkan kembali. Sekitar 60 hari setelah melahirkan, jaringan organ reproduksi yang sobek akibat proses kelahiran telah puli kembali sehingga peternak tidak perlu menunggu lama untuk membuat persiapan perkawinan kembali. Sasaran pemeriksaan terhadap induk yang pernah beranak adalah pengamatan untuk menemukan tanda-tanda birahi.

B. Pemberian Pakan Yang Berkualitas

Jumlah dan kualitas pakan induk untuk dikawinkan perlu ditingkatkan. Disamping itu, induk perlu diberi hijauan ditambah konsentrat 0.5 kg/hari/ekor selama tiga minggu. Tujuannya adalah agar induk menjadi lebih kuat dan sehat serta jumlah sel telur yang diovulasikan juga meningkat. Dengan demikian, harapan agar induk dapat melahirkan anak kembar bisa terjadi.

C. Pemangkasan Bulu

Bulu di sekitar alat reproduksi, ekor, dan dubur perlu dibersihkan dengan cara memangkasnya. Domba jantan yang akan dikawinkan juga harus dipangkas bulu di sekitar penisnya. Pemangkasan bulu di sekitar alat reproduksi tersebut bertujuan agar pelaksanaan perkawinan berlangsung lancar.

Sumber: Buku Beternak Domba oleh A.S Sudarmono & Y. Bambang Sugeng

Author:
• Tuesday, March 13th, 2012

Dewasa ini, dikenal berbagai jenis domba dari penjuru dunia, terutama yang berasal dari daratan Eropa dan sekitarnya. Peternak domba yang berpengalaman pasti akan memilih jenis domba sesuai dengan tujuan pemeliharaannya sebab masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Sehubungan dengan hal tersebut, berikut ini akan diuraikan mengenai tipe dan bangsa-bangsa domba, baik lokal maupun yang berasal dari luar.

1. Domba Tipe Pedaging

Kelompok domba tipe pdaging atau potong memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Bentuk badan padat, dada lebar dan dalam, leher pendek serta garis punggung dan pinggang lurus.
  • Kaki pendek dan seluruh tubuh berurat daging yang padat

Beberapa domba yang termasuk tipe pedaging antara lain southdown, hampshire, dan oxford.

2. Domba Tipe Wol

Kelompok domba tipe wol memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Bertubuh ringan, kaki halus, berdaging tipis, serta berpilaku lincah dan aktif
  • Antara permukaan daging dan kulit agak longgar serta berlipat-lipat

Beberapa domba yang termasuk tipe wol antara lain merino, rambouillet, dorset dan suffolk. Domba asli Indonesia belum dapat dikelompokkan ke salah satu tipe yang ideal dari kedua tipe tersebut. Walaupun demikian, domba-domba di Indonesia umumnya mengarah kepada tipe pemotong atau pedaging. Hal itu disebabkan domba tipe wol sampai saat ini belum diminati oleh peternak di Indonesia. Di samping itu, pemasaran wol di Indonesia belum ramai karena iklim Indonesia kurang sesuai untuk pemakaian wol, serta teknologi pengadaan wol yang belum mendapat prioritas dari para pengusaha.

Selain itu, konsumen domba di Indonesia lebih condong mengarah untuk konsumsi daging berupa sate dan gulai. Munculnya warung-warung dan rumah makan yang menyediakan menu gulai dan sate menyebabkan dunia pasar domba tidak pernah sepi pembeli, apalagi menjelang hari raya qurban bagi umat Islam, permintaan konsumen dapat melonjak dua kali lipat.

Sumber: Buku Beternak Domba Oleh A.S Sudarmono & Y. Bambang Sugeng

Author:
• Monday, December 26th, 2011

Selama ini, domba kurang dikenal dibandingkan dengan kambing. Baik konsumsi (daging) maupun dalam cara beternaknya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan antara ternak kambing dan domba, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Domba mudah beradaptasi terhadap berbagai lingkungan. Kondisi yang relatif panas tidak menjadi penghalang dalam pengembangan ternak domba. Hal itu karena tubuh domba yang hampir seluruhnya tertutup bulu tebal akan menahan penguapan lewat permukaan kulit sehingga tidak perlu banyak minum. Keperluan air cukup dipenuhi dari kandungan air dalam pakan hijauan.

2. Domba lebih suka hidup berkelompok sehingga pada saat digembalakan tak akan saling terpisah jauh dari kelompoknya.

3. Domba cepat berkembang biak. Dalam waktu dua tahun, domba dapat beranak sebanyak tiga kali dan sekali beranak  bisa menghasilkan anak hingga dua ekor.

4. Hasil sampingan dari ternak domba berupa kotoran yang bisa dijadikan pupuk pertanian karena unsur-unsur yang terdapat di dalamnya banyak diperlukan tanaman dan penting bagi pengawetan tanah.

5. Tidak memerlukan modal banyak. Dengan modal yang kecil, usaha ternak domba bisa berjalan. Hal itu karena domba dapat diusahakan dengan kandang yang sederhana dan pakan berupa hijauan yang mudah didapat.

6. Ternak domba juga dapat digunakan sebagai tabunga. Misalnya, di musim panen petani dapat membeli domba dalam jumlah besar dan pada masa paceklik domba tersebut bisa dijual ke pasar.

7. Daging domba merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat penting untuk pemenuhan gizi manusia dan cukup diminati konsumen.

8. Karkas domba berupa kulit merupakan nilai tambah karena dapat dijual dengan harga yang tinggi.

Semua keuntungan tersebut dapat diperoleh jika prosedur dalam beternak domba dijalankan secara intensif. Alasan utamanya adalah karena iklim di Indonesia dapat memperlambat laju metabolisme.

Sumber: Buku Beternak Domba oleh A.S Sudarmono & Y. Bambang Sugeng

Author:
• Friday, December 23rd, 2011

Ternak domba di Indonesia lebih banyak diusahakan oleh para petani di daerah pedesaan. Domba yang diternakkan pun biasanya sedikit jumlahnya, sekitar 3-5 ekor per keluarga. Domba tersebut dipelihara secara tradisional dan merupakan bagian dari usaha tani sehingga tingkat pendapatan yang diperoleh juga relatif kecil. Sebagian besar petani memelihara domba dengan sistem pemeliharaan dan perkandangan sederhana, penyediaan pakan pun terbatas dan hanya mengandalkan alam sekitar, serta tanpa ada pemilihan bibit secara terarah. Semua ini merupakan ciri-ciri sistem pemeliharaan tradisional.

Menurut hasil penelitian, pemeliharaan yang sederhana hanya dapat memberikan pertambahan berat badan rata-rata 20-30 g/hari. Namun, dengan pemeliharaan domba secara intensif dapat memberikan pertambahan berat badan rata-rata 50-150 g/hari. Hal ini membuktikan bahwa sistem pemeliharaan berpengaruh besar terhadap produktivitas dan pengembangan usaha ternak. Di negara-negara maju, seperti Australia dan Eropa, ternak domba memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi karena domba menghasilkan wol dan daging.

Sementara itu, di Indonesia domba lebih banyak diternakkan sebagai penghasil daging semata. Walaupun demikian, usaha ternak domba di Indonesia memiliki prospek cerah. Keuntungan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut.

1. Daging domba, seperti halnya daging ayam dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, agama dan kepercayaan di Indonesia. Hal itu berbeda dengan daging babi dan sapi.

2. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan pendapatan yang cukup akan mendorong penduduk untuk memenuhi gizi, khususnya protein hewani.

Untuk memenuhi kebutuhan akan daging domba, diperlukan pemotongan secara terus menerus. Walaupun begitu, ternak potong lain seperti kambing, sapi dan kerbau sampai saat ini juga dirasakan masih belum mencukupi. Di samping itu, selera konsumen untuk menikmati kelezatan daging domba dalam bentuk sate dan gulai cukup besar. Berdasarkan hal tersebut, para peternak bisa tetap optimis karena peluang pasar akan semakin meningkat. Dengan demikian, usaha ternak domba memiliki hari depan yang lebih baik.

Sumber: Buku Beternak Domba Oleh A.S Sudarmono & Y. bambang Sugeng